-->

Hujan di Bulan Juni: Sudah Masuk Musim Kemarau Tetapi Masih Hujan?

Hujan
Hujan (magnific.com)

Indonesia sebagai negara tropis, hanya memiliki 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan biasanya berlangsung dari bulan Oktober hingga April. Kemudian sisanya adalah musim kemarau, yaitu dimulai dari bulan April hingga Oktober. Tetapi, sudah di akhir bulan Juni, hujan masih saja hadir. Bahkan beberapa hari cuacanya mendung, suhu pun tergolong rendah untuk musim kemarau, dan hujan sesekali masih hadir dengan intensitas tinggi.

Hujan di bulan Juni, diabadikan oleh Sapardi Djoko Damono. Bahwa tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu, ... Perumpamaan metafora ini digunakan untuk menggambarkan perasaan yang seperti hujan bulan Juni. Sebab hujan yang turun di bulan Juni sebenarnya tidak diharapkan, kadang muncul tiba-tiba, lalu menghilang lagi tanpa banyak orang menyadarinya. 


Mari kita kembali ke inti pembahasan, mengapa hujan masih sering terjadi di bulan Juni?

Terlebih dahulu, kita bahas mekanisme cuaca/iklim di Indonesia. Menurut BMKG, prakiraan untuk musim kemarau 2026 dimulai dari bulan April. Sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal. Pergantian musim ini erat kaitannya dengan fenomena La Niña yang mulai melemah pada Februari 2026, dan mulai menuju El Niño di pertengahan tahun nanti. 

El Niño adalah fenomena ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih hangat dari biasanya, yang dapat mengurangi curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan Indonesia dingin. Sedangkan La Niña adalah fenomena ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya dan dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat. 

La Niña menyebabkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah-timur lebih dingin dari normal, yang mendorong massa udara hangat dan lembab bergerak lebih kuat ke arah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Akibatnya, penguapan meningkat dan pembentukan awan hujan lebih aktif. La Niña membuat hujan di bulan Juni lebih mungkin terjadi karena secara tidak langsung akan memperpanjang musim basah. Musim hujan bisa memanjang hingga melewati jadwal normalnya, curah hujan di bulan-bulan yang seharusnya kering bisa lebih tinggi dari rata-rata, dan intensitas hujan bisa lebih deras, bahkan memicu banjir di beberapa wilayah.

Selain El Niño dan La Niña, iklim di Indonesia juga dikendalikan oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional lainnya. Diantaranya Sirkulasi Monsun Asia-Australia, Indian Ocean Dipol (IOD), Intertropical Convergence Zone (ITCZ), dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.

Mekanisme Iklim di Indonesia (Sumber: BMKG)

  • Angin monsun baratan/monsun Asia terjadi ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi, dan di Australia lebih rendah sehingga angin mengalir ke arah Australia. Di perjalanan, angin membawa uap air hasil penguapan di permukaan laut. Kemudian ketika mencapai Indonesia, angin yang membawa uap air tersebut bertemu dengan udara yang lebih dingin, sehingga uap air mengembun menjadi titik air dan akhirnya menjadi hujan.
  • Angin monsun timuran/tenggara/monsun Australia yang terjadi akibat tekanan udara lebih tinggi di Australia karena sedang musim dingin. Angin mengalir melewati wilayah Australia yang kering dan mengandung uap air yang sedikit, udaranya pun kering. Sehingga awan hujan yang terbentuk pun sangat sedikit, akhirnya menjadi musim kemarau di Indonesia.
  • IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia. IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia. Perbedaan suhu memengaruhi penguapan, pembentukan awan, dan curah hujan. Semakin hangat suhu permukaan laut maka meningkatkan penguapan air sehingga awan hujan juga mudah terbentuk. Dan sebaliknya, laut yang lebih dingin menghasilkan penguapan lebih sedikit, sehingga pembentukan awan hujan berkurang.
  • ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara selatannya mengikuti pergerakan matahari. Udara berkumpul lalu naik ke atmosfer karena pemanasan Matahari, uap air akan mengembun menjadi awan dan menghasilkan hujan. Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ berpotensi mengalami peningkatan pertumbuhan awan dan hujan.
  • Suhu permukaan laut yang panas meningkatkan potensi penguapan air dan pembentukan awan hujan, dan juga sebaliknya, suhu yang dingin akan mengurangi potensi pembentukan awan hujan.


Jadi, kenapa masih hujan di bulan Juni?

Musim kemarau bukan berarti tidak terjadi hujan sama sekali. Hanya saja, hujan yang datang intensitasnya sangat rendah. Musim kemarau juga tidak datang serentak untuk seluruh Indonesia, tetapi secara bertahap mulai dari daerah selatan ke utara. Jadi, untuk wilayah tertentu ada yang sudah jarang sekali hujan dan cuacanya panas/kering. Dan ada juga yang masih mendapati wilayahnya sesekali masih turun hujan. Sekarang ini pun masih peralihan menuju puncak kemarau yang menurut prakiraan terjadi pada bulan Agustus. 

Artinya, hujan di bulan Juni maupun di waktu-waktu kemarau lainnya adalah hal yang normal.

0 Response to "Hujan di Bulan Juni: Sudah Masuk Musim Kemarau Tetapi Masih Hujan?"

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan

Rekomendasi Postingan

Fakta Menarik Matematika di Alam Semesta

Apakah Tuhan bermain matematika? Itulah pertanyaan yang terlintas di benak seorang ahli astrofisika, Mario Livio, dalam bukunya Is God a Mat...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel